Selasa, 04 Oktober 2016

3 Gangguan Tidur yang Jarang Diketahui

Bicara soal gangguan tidur, orang-orang mungkin akrab dengan istilah sleepwalking, mimpi buruk atau night terror. Namun ada gangguan lain yang jarang dibicarakan namun benar-benar ada.

Hasil gambar untuk gangguan tidur

Gangguan tidur merupakan masalah kesehatan yang tidak boleh disepelekan. Beragam penelitian menyebut gangguan tidur menandakan adanya masalah kejiwaan hingga gangguan di otak.

Beberapa gangguan tidur seperti hypnagogic hallucination, sindrom kepala meledak hingga seksomnia diragukan keseriusan bahayanya, padahal kondisi ini benar-benar ada. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut penjabarannya:

1. Hypnagogic hallucination

Pernah merasa limbung, mendengar suara-suara aneh atau melihat penampakan saat baru bangun tidur? Tenang, Anda tidak sedang mengalami kondisi supernatural. Pakar mengatakan hal ini disebut sebagai hypnagogic hallucination.

Herbert Silberer, pakar alam bawah sadar, mengatakan hypnagogic hallucination tidak berbeda dengan sleep paralysis. Hanya saja hypnagogic hallucination terjadi ketika seseorang baru bangun tidur sementara sleep paralysis terjadi saat seseorang tidur.

"Anda mungkin lebih familiar dengan istilah setengah bangun, di mana Anda melihat penampakan atau suara yang sebenarnya tidak ada, namun hanya berupa representasi hal-hal yang sedang Anda pikirkan sebelumnya," tuturnya.

2. Sindrom kepala meledak

Sindrom kepala meledak atau exploding head syndrome tidak benar-benar membuat kepala Anda meledak. Sindrom ini biasanya ter jadi ketika Anda tidur nyenyak, tapi tiba-tiba bangun oleh suara keras dan tajam seperti ledakan, bahkan kadang-kadang digambarkan sebagai suara bom, pistol, atau simbal.

Tidak ada rasa sakit atau bahaya yang terjadi pada sindrom ini. Penyebab pasti sindrom kepala meledak pun belum diketahui, tapi diyakini hal ini terkait dengan penyakit serius.

Cara mengobati sindrom kepala meledak sama seperti parasomnia lainnya dengan mengurangi stres, menghindari pemicu potensial seperti obat dan alkohol, dan tidur teratur.

3. Seksomnia
Seksomnia merupakan salah satu kondisi parasomnia (aktivitas abnormal tertentu yang terjadi selama tidur). Orang dengan seksomnia mengalami gangguan di mana akan bertindak seksual ketika tidur, misalnya melakukan masturbasi dan hubungan seks dalam keadaan tidak terjaga.

Cara mengobati gangguan ini adalah dengan mengamankan lingkungan tidur dan tidur sendirian sampai kondisi membaik. Mengobati gangguan tidur lain, berhenti menggunakan obat-obatan terlarang atau berhenti minum minuman beralkohol dapat membantu mengatasi seksomnia. Dalam beberapa kasus, obat-obatan diperlukan untuk mengatasi seksomnia.

Anak Yang Melakukan Pengobatan Alternatif Lebih Jarang Diimunisasi

Pernah melakukan pengobatan alternatif membuat anak jarang diimunisasi oleh orang tuanya. Hal ini dibuktikan oleh studi terbaru dari Amerika Serikat.

Hasil gambar untuk anak jarang di imunisasi

Studi yang dilakukan oleh William Bleser dari Pennsylvania State University menyebut pengobatan alternatif seperti akupunktur dan chiropractic dipercaya orang tua lebih baik daripada imunisasi. Penelitian dilakukan kepada lebih dari 9.000 anak di Amerika Serikat.

"Pengobatan alternatif membuat orang tua terpengaruh oleh para praktisi akupunktur atau chiropractic yang secara terang-terangan mendukung gerakan anti-vaksin," tutur Bleser, dikutip dari Reuters.

Hasil penelitian Bleser menyebut hanya 33 persen anak yang mendapat pernah menjalani pengobatan alternatif mendapat imunisasi dari orang tuanya. 35 Persen lainnya mendapat imunisasi dasar tapi tidak rutin melakukan imunisasi influenza.

Di sisi lain, 43 persen anak yang tidak pernah mendapat pengobatan alternatif mendapat imunisasi lengkap, termasuk imunisasi influenza. Hasil studi juga menyebut anak yang diberi multivitamin secara rutin lebih jarang mendapat pengobatan alternatif.

Hanya 17 persen dari anak yang rutin mengonsumsi multivitamin pernah melakukan pengobatan alternatif. Selain itu, 45 persen anak yang mendapat multivitamin juga mendapat imunisasi lengkap, termasuk imunisasi influenza.

Bleser mengatakan selain pengaruh terapis pengobatan alternatif, ada hal-hal lain yang juga memengaruhi keputusan orang tua untuk tidak mengimunisasi anak. Kondisi tempat, latar belakang kebudayaan serta status ekonomi keluarga menjadi beberapa hal yang memengaruhi keputusan keluarga untuk berobat ke pengobatan alternatif.

"Seringkali orang tua yang memiliki latar belakang religius lebih memilih pengobatan alternatif daripada pencegahan melalui imunisasi," tuturnya.

INGGAT! Donor Asi Hanya Bersifat Sementara

Kebutuhan akan donor ASI menjadi penting ketika berada dalam situasi genting di mana bayi butuh asupan tetapi ibu tidak menghasilkan ASI atau si anak sakit sehingga ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif.


Hasil gambar untuk donor asi

Akan tetapi dokter berpesan agar jangan sampai ini keterusan. "Misal rumah sakit melakukan donor ASI, namun tidak mengelola si ibu dengan baik. Akhirnya si ibu beneran jadi berhenti ASI-nya," 

Padahal ketika seorang ibu membutuhkan donor ASI, bukan berarti ia tidak bisa menghasilkan ASI sama sekali. Hal ini justru benar-benar terjadi jika rumah sakit membiarkan si ibu bergantung kepada donor ASI.

Oleh karena itu, ketika dokter atau rumah sakit memutuskan agar seorang ibu menggunakan donor ASI, mereka harus tetap melaksanakan tahapan-tahapan yang dibutuhkan agar ibu bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

"Step-step-nya tetap harus dikerjain. Nggak pakai donor ASI, bisa pakai sendok. Nah lebih bagus lagi pakai SNS (Supplemental Nursing System) atau NGT, yaitu dengan menggunakan selang," pesannya.

Namun dokter memungkiri jika 'budaya' suportif terhadap pemberian ASI eksklusif ini masih belum berkembang dengan baik, bahkan di kalangan rumah sakit sendiri. Hanya ada segelintir rumah sakit yang suportif terhadap ibu dalam memberikan ASI eksklusif.

"Ingat, donor ASI itu sifatnya sementara! Jika kondisi ibu atau bayi membaik, maka akan diberikan ASI ibunya kembali. Itu yang benar," 

"Ibu kita anggap sebagai tim, agar ia merasa bahwa ASI ini obat untuk si bayi, agar tetap memerah. Kalau bayinya sudah bisa keluar maka diperbolehkan digendong. Itu bermanfaat sekali karena saat sudah ada rangsangan bisa memerah ASI,".