Akan tetapi dokter berpesan agar jangan sampai ini keterusan. "Misal rumah sakit melakukan donor ASI, namun tidak mengelola si ibu dengan baik. Akhirnya si ibu beneran jadi berhenti ASI-nya,"
Padahal ketika seorang ibu membutuhkan donor ASI, bukan berarti ia tidak bisa menghasilkan ASI sama sekali. Hal ini justru benar-benar terjadi jika rumah sakit membiarkan si ibu bergantung kepada donor ASI.
Oleh karena itu, ketika dokter atau rumah sakit memutuskan agar seorang ibu menggunakan donor ASI, mereka harus tetap melaksanakan tahapan-tahapan yang dibutuhkan agar ibu bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.
"Step-step-nya tetap harus dikerjain. Nggak pakai donor ASI, bisa pakai sendok. Nah lebih bagus lagi pakai SNS (Supplemental Nursing System) atau NGT, yaitu dengan menggunakan selang," pesannya.
Namun dokter memungkiri jika 'budaya' suportif terhadap pemberian ASI eksklusif ini masih belum berkembang dengan baik, bahkan di kalangan rumah sakit sendiri. Hanya ada segelintir rumah sakit yang suportif terhadap ibu dalam memberikan ASI eksklusif.
"Ingat, donor ASI itu sifatnya sementara! Jika kondisi ibu atau bayi membaik, maka akan diberikan ASI ibunya kembali. Itu yang benar,"
"Ibu kita anggap sebagai tim, agar ia merasa bahwa ASI ini obat untuk si bayi, agar tetap memerah. Kalau bayinya sudah bisa keluar maka diperbolehkan digendong. Itu bermanfaat sekali karena saat sudah ada rangsangan bisa memerah ASI,".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar